"GIE"
GIE
JONATHAN
AGUSTINUS
1EA37
NPM:
1D214210
UNIVERSITAS
GUNADARMA
| Sutradara | Riri Riza |
|---|---|
| Produser | Mira Lesmana |
| Penulis | Riri Riza |
| Pemeran | Nicholas Saputra Wulan Guritno Indra Birowo Lukman Sardi Sita Nursanti Thomas Nawilis Jonathan Mulia Christian Audy Donny Alamsyah Robby Tumewu Tutie Kirana Gino Korompis Surya Saputra Happy Salma |
| Distributor | Sinemart Pictures |
| Durasi | 147 menit |
| Anggaran | Rp 7-10 miliar (perk.) |
REVIEW:
Film ini menceritakan tentang seorang anak keturunan Tionghoa bernama Soe Hok Gie yang tinggal di Jakarta. Sejak masa remaja, Gie sudah menunjukkan minatnya yang besar terhadap konsep-konsep idealis. Gie mempunyai semangat perjuangan dan kesetiakawanan yang tinggi. Ia sangat peduli terhadap keadaan negeri ini dan ingin membuat masyarakat hidup sejahtera, bukannya tertindas dan terjerat kemiskinan.
Soe Hok Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942. Sejak duduk di bangku SD, Soe Hok Gie sudah gemar membaca buku-buku sastra, sehingga tak heran ia sering pergi ke perpustakaan. Pada saat masuk SMP, ia masuk sekolah yang berbeda dengan kakaknya. Gie bersekolah di SMP Strada, sementara kakaknya, Soe Hok Djin, bersekolah di SMP Kanisius. Namun, pada saat kelas 2 SMP, Gie dinyatakan tidak naik kelas karena nilai-nilainya yang buruk. Padahal, Gie yakin semestinya nilainya lebih bagus dari teman-temannya karena ia banyak membaca dan telah mempunyai wawasan yang luas dari buku-buku yang ia baca. Gie merasa dirinya diperlakukan tidak adil dan akhirnya ia pindah ke SMP Kanisius, sekolah yang sama dengan kakaknya. Soe Hok Gie dan kakaknya mendapat nilai yang baik disana dan melanjutkan sekolah mereka di SMA Kanisius.
Setelah lulus SMA, Gie dan kakaknya mendapat nilai yang tinggi, dan diterima di Universitas Indonesia. Gie masuk jurusan sastra sejarah dan kakaknya memilih jurusan sosiologi. Di kampus, Gie menjadi seorang aktivis kemahasiswaan yang aktif dan sering menulis artikel yang berisi kritik-kritik tajam terhadap pemerintah. Selain itu, Gie juga ikut mendirikan MAPALA UI (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia), yang kegiatannya seperti menonton dan menganalisis film serta mendaki gunung. Masa kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Akan tetapi, Gie dan teman-temannya tidak memihak golongan manapun, mereka tetap bersikap netral.
Gie sering mengkritik pemerintahan Soekarno lewat artikel yang ia buat. Walaupun Gie menghormati Soekarno karena telah mewujudkan kemerdekaan Indonesia, tetapi Gie banyak menentang kebijakan-kebijakan Soekarno karena kebijakan pemerintahan Soekarno membuat masyarakat hidup menderita dan melarat. Gie tahu banyak tentang penyelewengan pemerintahan Soekarno seperti ketidakadilan sosial, dan korupsi dimana-mana. Ia dan teman-temannya pun melakukan demo besar-besaran untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno.
Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya. Setelah lulus, Ia kecewa melihat teman-teman seangkatannya yang ikut berdemonstrasi tahun 1966 dan ikut mengkritik pemerintah, namun setelah lulus mereka meduduki jabatan dalam pemerintahan dan melupakan visi misi mereka yang sebenarnya.
Gie mempunyai teman masa kecil bernama Tan Dji Han, saat kecil mereka terpisahkan, tapi akhirnya mereka bertemu kembali ketika sudah dewasa. Gie pun mengetahui bahwa teman masa kecilnya itu tergabung dalam PKI. Gie memperingatkan Tan Dji Han untuk melarikan diri sebelum terjadi razia anggota PKI, tetapi ia menolak desakan tersebut. Akhirnya ia tertangkap dalam razia, dan ditembak bersama anggota PKI lainnya di pantai Bali.
Diceritakan dalam film, bahwa Gie dekat dengan 2 orang wanita, yaitu Ira dan Sinta. Ira adalah sahabat Gie yang juga tergabung dalam MAPALA UI. Ira juga adalah seorang wanita yang cerdas dan mempunyai semangat idealis seperti Soe Hok Gie. Mereka berdua sempat dekat, tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak menjalin hubungan lebih jauh dan hanya sebatas sahabat saja. Yang kedua adalah Sinta. Sinta adalah anak dari keluarga yang berada dan orang tua Sinta mengagumi karya-karya Soe Hok Gie. Awalnya mereka memang saling tertarik, namun lambat laun Sinta sadar bahwa ia hanya menyukai Soe Hok Gie karena Gie adalah orang yang hebat dan dihormati, sehingga ia bangga punya pacar seperti Gie. Ia tidak peduli mengenai obsesi hati Gie yang mempunyai semangat idealis dan memperjuangkan hak-hak rakyat. Gie juga tidak mengerti bagaimana mengambil hati Sinta, sehingga mereka tidak bisa melanjutkan hubungan lagi.
Fim ini diakhiri dengan meninggalnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru akibat menghisap gas beracun gunung tersebut, karena ia terlambat turun gunung. Sampai akhir hayatnya, harapan Soe Hok Gie untuk menciptakan kehidupan yang adil dan sejahtera di Indoesia masih belum terwujud, bahkan sampai sekarang.
UNSUR BUDAYA
Film ini mengenai lika-liku kehidupan etnis Tionghoa di
Indonesia, juga menjadi penglihatan masyarakat mengenai etnis Tionghoa pertama di Jawa Barat ini. Film
ini juga memperlihatkan seorang keturunan Tionghoa yang dengan gigih ingin
merubah struktur Bangsa Indonesia menjadi yang lebih baik lagi. Akan tetapi,
banyaknya unsur budaya Tionghoa yang berakulturasi dengan kebudayaan lokal,
membuat jati diri kebudayaan Tionghoa semakin "menguap" tertiup
modernisasi zaman.
Selain itu, puluhan kebaya nyonya, juga mencuri perhatian
hampir seluruh masyarakat. Kebaya dengan berbagai motif dan warna cantik ini,
ampuh memikat mata karena menampilkan khasanah kebudayaan etnis Tionghoa yang
berakulturasi dengan budaya Melayu.
Keadaan Budaya
Masyarakat menghargai adanya perbedaan etnis, ras , dan agama. Di masa Orde Lama tidak terlihat adanya diskriminasi oleh kaum mayoritas kepada kaum minoritas.
Masyarakat menghargai adanya perbedaan etnis, ras , dan agama. Di masa Orde Lama tidak terlihat adanya diskriminasi oleh kaum mayoritas kepada kaum minoritas.
quote: “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”
―
Soe Hok Gie




Komentar
Posting Komentar